Tulisan panjang

Introduction

Kuliah IT tidak serta merta membuat duniaku sedekat itu dengan IT. Ayo angkat tangan, pasukan yang merasa salah jurusan 🙋, dan perjalanannya memang tidak semulus itu.

Justru aku dibawa ke tempat lain, bergerak ke bidang kreatif: desain, ilustrasi, dan content creating. Pernah menjadi Graphic Designer di sebuah startup IT, membuat aset visual untuk kebutuhan platform dan aplikasi. Lalu freelance sebagai digital illustrator, banyak mengerjakan ilustrasi dan cover untuk kebutuhan cetak buku. Sempat juga menjalankan usaha wedding digital invitation sendiri, sebelum akhirnya bekerja menghandle brand untuk lingkup content creation dan social media management.

Kalau digambar, jalannya jelas bukan garis lurus. Aku pernah mengira hidup itu seperti garis lurus yang ditarik dari titik awal ke titik tujuan. Tapi kenyataannya, banyak sekali belokan. Berkali-kali. Aku dibawa ke tempat yang, ternyata, tidak pernah aku rencanakan, mengerjakan dan menghadapi hal-hal yang tidak pernah ada di bayangan versi mudaku. Barangkali sebagian dari kita menemukan diri bukan di garis lurus yang sedari awal sudah ada tandanya, tapi di antara belokan yang awalnya terasa seperti kekeliruan.

Dua belokan paling berat dalam hidupku datang dari tempat yang paling dekat — dan anehnya, keduanya yang paling banyak mengajariku.

Aku tumbuh di keluarga yang dinamikanya warna-warni. Yang dari situ banyak meninggalkan kenangan tidak terlalu menyenangkan dan pelajaran yang baru aku sadari bentuknya jauh setelah aku dewasa. Kenangan itu yang, tanpa aku tahu, ikut menentukan bagaimana aku memilih cara untuk dicintai, seberapa jauh aku membiarkan batasanku dilanggar, dan seberapa lama aku bertahan di tempat yang seharusnya sudah aku tinggalkan.

Salah satu bentuknya adalah relasi yang tidak sehat yang aku jalani cukup lama. Aku baru sadar pola yang berulang dalam relasi yang aku jalani itu bukanlah sebuah kebetulan — ia berasal dari sesuatu yang jauh lebih lama, yang sudah ada bahkan sebelum aku mengenal siapa orangnya. Dari sana aku justru belajar mengenal diriku sendiri lebih baik daripada sebelumnya. Tentang apa yang aku butuhkan, batas mana yang tidak bisa lagi dinegosiasikan, dan seberapa jauh aku sebenarnya mampu bangkit di tengah usahaku meraba cahaya di antara hari-hari yang nyaris meremukkan diri jadi kepingan-kepingan kecil.

Tiap yang aku tulis bukan untuk mengorek luka, tapi untuk merayakan seberapa jauh aku sudah berjalan dari titik-titik gelap itu. Kalau hidupmu sedang berkelok-kelok juga — entah karena pekerjaan, keluarga, ataupun relasi yang tidak mudah — barangkali belokan itu belum selesai membentuk siapa kamu nantinya. Hikmahnya, biasanya, baru kelihatan setelah kamu berhasil melewatinya.

Karena tugas manusia itu sederhana saja.
Menerima apa yang sudah berlalu.
Lalu, merayakan apa yang tersisa.

Kamu, yang pernah berpikir untuk mengakhiri segalanya. Tapi, lihatlah. Sekarang justru kamu berada di sini, membaca tulisanku.

Pada keyakinan yang kamu berusaha genggam dengan kekuatan terakhir yang tersisa itu, ada doa yang terselip di lapisan terdalam hatimu. Berharap jika suatu saat nanti, Tuhan akan berikan satu titik cahaya yang akan menjadi awal dari mula yang baru, yang akan menuntunmu keluar dari lorong gelap panjang itu.

Tentu, kita berjalan di lorong yang berbeda. Tapi percayalah, langit yang menaungi kita tetap sama. Ya, rahmat Tuhan yang luasnya sama sekali tak bertepi.

Aku memilih untuk tetap bertahan, dan memungut kepingan terakhir itu. Aku harap, kamu pun juga begitu.

Kembali ke Notes

Tulisan panjang

Introduction

Kuliah IT tidak serta merta membuat duniaku sedekat itu dengan IT. Ayo angkat tangan, pasukan yang merasa salah jurusan 🙋, dan perjalanannya memang tidak semulus itu.

Justru aku dibawa ke tempat lain, bergerak ke bidang kreatif: desain, ilustrasi, dan content creating. Pernah menjadi Graphic Designer di sebuah startup IT, membuat aset visual untuk kebutuhan platform dan aplikasi. Lalu freelance sebagai digital illustrator, banyak mengerjakan ilustrasi dan cover untuk kebutuhan cetak buku. Sempat juga menjalankan usaha wedding digital invitation sendiri, sebelum akhirnya bekerja menghandle brand untuk lingkup content creation dan social media management.

Kalau digambar, jalannya jelas bukan garis lurus. Aku pernah mengira hidup itu seperti garis lurus yang ditarik dari titik awal ke titik tujuan. Tapi kenyataannya, banyak sekali belokan. Berkali-kali. Aku dibawa ke tempat yang, ternyata, tidak pernah aku rencanakan, mengerjakan dan menghadapi hal-hal yang tidak pernah ada di bayangan versi mudaku. Barangkali sebagian dari kita menemukan diri bukan di garis lurus yang sedari awal sudah ada tandanya, tapi di antara belokan yang awalnya terasa seperti kekeliruan.

Dua belokan paling berat dalam hidupku datang dari tempat yang paling dekat — dan anehnya, keduanya yang paling banyak mengajariku.

Aku tumbuh di keluarga yang dinamikanya warna-warni. Yang dari situ banyak meninggalkan kenangan tidak terlalu menyenangkan dan pelajaran yang baru aku sadari bentuknya jauh setelah aku dewasa. Kenangan itu yang, tanpa aku tahu, ikut menentukan bagaimana aku memilih cara untuk dicintai, seberapa jauh aku membiarkan batasanku dilanggar, dan seberapa lama aku bertahan di tempat yang seharusnya sudah aku tinggalkan.

Salah satu bentuknya adalah relasi yang tidak sehat yang aku jalani cukup lama. Aku baru sadar pola yang berulang dalam relasi yang aku jalani itu bukanlah sebuah kebetulan — ia berasal dari sesuatu yang jauh lebih lama, yang sudah ada bahkan sebelum aku mengenal siapa orangnya. Dari sana aku justru belajar mengenal diriku sendiri lebih baik daripada sebelumnya. Tentang apa yang aku butuhkan, batas mana yang tidak bisa lagi dinegosiasikan, dan seberapa jauh aku sebenarnya mampu bangkit di tengah usahaku meraba cahaya di antara hari-hari yang nyaris meremukkan diri jadi kepingan-kepingan kecil.

Tiap yang aku tulis bukan untuk mengorek luka, tapi untuk merayakan seberapa jauh aku sudah berjalan dari titik-titik gelap itu. Kalau hidupmu sedang berkelok-kelok juga — entah karena pekerjaan, keluarga, ataupun relasi yang tidak mudah — barangkali belokan itu belum selesai membentuk siapa kamu nantinya. Hikmahnya, biasanya, baru kelihatan setelah kamu berhasil melewatinya.

Karena tugas manusia itu sederhana saja.
Menerima apa yang sudah berlalu.
Lalu, merayakan apa yang tersisa.

Kamu, yang pernah berpikir untuk mengakhiri segalanya. Tapi, lihatlah. Sekarang justru kamu berada di sini, membaca tulisanku.

Pada keyakinan yang kamu berusaha genggam dengan kekuatan terakhir yang tersisa itu, ada doa yang terselip di lapisan terdalam hatimu. Berharap jika suatu saat nanti, Tuhan akan berikan satu titik cahaya yang akan menjadi awal dari mula yang baru, yang akan menuntunmu keluar dari lorong gelap panjang itu.

Tentu, kita berjalan di lorong yang berbeda. Tapi percayalah, langit yang menaungi kita tetap sama. Ya, rahmat Tuhan yang luasnya sama sekali tak bertepi.

Aku memilih untuk tetap bertahan, dan memungut kepingan terakhir itu. Aku harap, kamu pun juga begitu.

Kembali ke Notes