Review buku
Janji
Tere Liye
- fiksi
- religi
- moral
- keluarga
Pukul 12.39 dini hari, 28 September ‘29. Buku ini selesai dibaca. Senyap sejenak, pikiran ikut diam.
I’m not usually a big fan of fiction. Tapi buku Tere Liye yang satu ini berhasil bikin aku merasakan sesuatu yang cukup jarang aku rasakan setelah menyelesaikan satu buku, ya, perasaan kosong. Seolah ceritanya sudah selesai, tapi pikiranku belum selesai tinggal di dalamnya.
Sarat makna, banyak nilai hidup yang terasa dekat, untuk aku. Dan rasanya juga akan terasa dekat juga bagi banyak orang. Ada emosi yang cukup intens selama membacanya.
Menariknya, dunia Bahar tidak banyak dibangun dari sudut pandang Bahar sendiri. Kita justru akan diajak mengenalnya melalui orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya sepanjang hidup. Sedikit demi sedikit, dari cerita orang lain, sosok Bahar terbentuk di kepala kita.
Mungkin itu juga yang bikin aku merasa tertarik dan akhirnya ikut “tinggal” di dalam dunia Bahar. For a while, it felt like I was there too. Ketika buku ini selesai, rasanya seperti baru saja meninggalkan sebuah tempat yang selama beberapa waktu terasa cukup nyata.
Bahar, dengan caranya sendiri, mengingatkan kita: bahwa yang benar-benar “menang” bukan yang selalu terlihat menang di depan banyak mata. Melainkan mereka yang mampu menutup lembar hidupnya dengan kebaikan, walaupun kebaikan itu sama sekali tidak tercium oleh hampir semua orang.
Bahar menutup usia dalam keadaan tidak zalim, tidak menzalimi orang lain, pun juga tidak menzalimi dirinya sendiri.
Zalim, ketika seseorang sudah diberi arah untuk hidup dengan baik, dan telah mengenal cahaya yang bisa menuntunnya, tapi justri memilih abai, menunda, lalu terbiasa lalai terhadap hal-hal yang semestinya dijaga.
Dan kadang, betapa mudahnya kita memvonis akhir hidup seseorang? Hanya karena hari ini ia tampak jauh sekali dari jalan yang lurus. Seolah kita tahu takdir, seolah kita tahu seperti apa epilog hidup orang lain akan dituliskan.
Padahal, bukankah melangkahi pengetahuan Tuhan adalah bentuk kesombongan yang paling nyata?
Tuhan, Yang Maha Mengetahui, Ia menyimpan takdir-takdir yang mampu membalikkan setiap hal dalam sekejap, bahkan pada hal yang tidak kita duga sama sekali.
Review buku
Janji
Tere Liye
- fiksi
- religi
- moral
- keluarga
Pukul 12.39 dini hari, 28 September ‘29. Buku ini selesai dibaca. Senyap sejenak, pikiran ikut diam.
I’m not usually a big fan of fiction. Tapi buku Tere Liye yang satu ini berhasil bikin aku merasakan sesuatu yang cukup jarang aku rasakan setelah menyelesaikan satu buku, ya, perasaan kosong. Seolah ceritanya sudah selesai, tapi pikiranku belum selesai tinggal di dalamnya.
Sarat makna, banyak nilai hidup yang terasa dekat, untuk aku. Dan rasanya juga akan terasa dekat juga bagi banyak orang. Ada emosi yang cukup intens selama membacanya.
Menariknya, dunia Bahar tidak banyak dibangun dari sudut pandang Bahar sendiri. Kita justru akan diajak mengenalnya melalui orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya sepanjang hidup. Sedikit demi sedikit, dari cerita orang lain, sosok Bahar terbentuk di kepala kita.
Mungkin itu juga yang bikin aku merasa tertarik dan akhirnya ikut “tinggal” di dalam dunia Bahar. For a while, it felt like I was there too. Ketika buku ini selesai, rasanya seperti baru saja meninggalkan sebuah tempat yang selama beberapa waktu terasa cukup nyata.
Bahar, dengan caranya sendiri, mengingatkan kita: bahwa yang benar-benar “menang” bukan yang selalu terlihat menang di depan banyak mata. Melainkan mereka yang mampu menutup lembar hidupnya dengan kebaikan, walaupun kebaikan itu sama sekali tidak tercium oleh hampir semua orang.
Bahar menutup usia dalam keadaan tidak zalim, tidak menzalimi orang lain, pun juga tidak menzalimi dirinya sendiri.
Zalim, ketika seseorang sudah diberi arah untuk hidup dengan baik, dan telah mengenal cahaya yang bisa menuntunnya, tapi justri memilih abai, menunda, lalu terbiasa lalai terhadap hal-hal yang semestinya dijaga.
Dan kadang, betapa mudahnya kita memvonis akhir hidup seseorang? Hanya karena hari ini ia tampak jauh sekali dari jalan yang lurus. Seolah kita tahu takdir, seolah kita tahu seperti apa epilog hidup orang lain akan dituliskan.
Padahal, bukankah melangkahi pengetahuan Tuhan adalah bentuk kesombongan yang paling nyata?
Tuhan, Yang Maha Mengetahui, Ia menyimpan takdir-takdir yang mampu membalikkan setiap hal dalam sekejap, bahkan pada hal yang tidak kita duga sama sekali.